A. Sejarah
Kabupaten Pemalang
Keberadaan Pemalang
dapat dibuktikan berdasarkan berbagai temuan arkeologis pada masa prasejarah.
Temuan itu berupa punden berundak dan pemandian di sebelah Barat Daya Kecamatan
Moga. Patung Ganesa yang unik, lingga, kuburan dan batu nisan di desa Keropak.
Selain itu bukti arkeologis yang menunjukkan adanya unsur-unsur kebudayaan
Islam juga dapat dihubungkan seperti adanya kuburan Syech Maulana Maghribi di
Kawedanan Comal. Kemudian adanya kuburan Rohidin, Sayyid Ngali paman dari Sunan
Ampel yang juga memiliki misi untuk mengislamkan penduduk setempat.
Eksistensi Pemalang
pada abad XVI dapat dihubungkan dengan catatan Rijklof Van Goens dan data di
dalam buku “W FRUIN MEES” yang menyatakan bahwa pada tahun 1575 Pemalang
merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh
seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan kemudian, Senopati dan
Panembahan Sedo Krapyak dari Mataram menaklukan daerah-daerah tersebut, termasuk
di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal Mataram yang
diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal.
Pemalang dan Kendal
pada masa sebelum abad XVII merupakan daerah yang lebih penting dibandingkan
dengan Tegal, Pekalongan dan Semarang. Karena itu jalan raya yang menghubungkan
daerah pantai utara dengan daerah pedalaman Jawa Tengah (Mataram) yang
melintasi Pemalang dan Wiradesa dianggap sebagai jalan paling tua yang
menghubungkan dua kawasan tersebut.
Populasi penduduk
sebagai pemukiman di pedesaan yang telah teratur muncul pada periode abad awal
Masehi hingga abad XIV dan XV, dan kemudian berkembang pesat pada abad XVI,
yaitu pada masa meningkatnya perkembangan Islam di Jawa di bawah Kerajaan
Demak, Cirebon dan kemudian Mataram.
Pada masa itu
Pemalang telah berhasil membentuk pemerintahan tradisional pada sekitar tahun
1575. Tokoh yang asal mulanya dari Pajang bernama Pangeran Benawa. Pangeran uu
asal mulanya adalah Raja Jipang yang menggantikan ayahnya yang telah mangkat
yaitu Sultan Adiwijaya.
Kedudukan raja ini
didahului dengan suatu perseturuan sengit antara dirinya dan Aria Pangiri.
Sayang sekali
Pangeran Benawa hanya dapat memerintah selama satu tahun. Pangeran Benawa
meninggal dunia dan berdasarkan kepercayaan penduduk setempat menyatakan bahwa
Pangeran Benawa meninggal di Pemalang, dan dimakamkan di Desa Penggarit
(sekarang Taman Makam Pahlawan Penggarit).
Pemalang menjadi
kesatuan wilayah administratif yang mantap sejak R. Mangoneng, Pangonen atau
Mangunoneng menjadi penguasa wilayah Pemalang yang berpusat di sekitar Dukuh
Oneng, Desa Bojongbata pada sekitar tahun 1622. Pada masa ini Pemalang
merupakan apanage dari Pangeran Purbaya dari Mataram. Menurut beberapa sumber R
Mangoneng merupakan tokoh pimpinan daerah yang ikut mendukung kebijakan Sultan
Agung. Seorang tokoh yang sangat anti VOC. Dengan demikian Mangoneng dapat
dipandang sebagai seorang pemimpin, prajurit, pejuang dan pahlawan bangsa dalam
melawan penjajahan Belanda pada abad XVII yaitu perjuangan melawan Belanda di
bawah panji-panji Sultan Agung dari Mataram.
Pada sekitar tahun
1652, Sunan Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya menjadi Bupati Pemalang
setelah Amangkurat II memantapkan tahta pemerintahan di Mataram setelah
pemberontakan Trunajaya dapat dipadamkan dengan bantuan VOC pada tahun 1678.
Menurut catatan
Belanda pada tahun 1820 Pemalang kemudian diperintah oleh Bupati yang bernama
Mas Tumenggung Suralaya. Pada masa ini Pemalang telah berhubungan erat dengan
tokoh Kanjeng Swargi atau Kanjeng Pontang. Seorang Bupati yang terlibat dalam
perang Diponegoro. Kanjeng Swargi ini juga dikenal sebagai Gusti Sepuh, dan
ketika perang berlangsung dia berhasil melarikan diri dari kejaran Belanda ke
daerah Sigeseng atau Kendaldoyong. Makam dari Gusti Sepuh ini dapat
diidentifikasikan sebagai makam kanjeng Swargi atau Reksodiningrat. Dalam
masa-masa pemerintahan antara tahun 1823-1825 yaitu pada masa Bupati
Reksadiningrat. Catatan Belanda menyebutkan bahwa yang gigih membantu pihak
Belanda dalam perang Diponegoro di wilayah Pantai Utara Jawa hanyalah
Bupati-bupati Tegal, Kendal dan Batang tanpa menyebut Bupati Pemalang.
Sementara itu pada
bagian lain dari Buku P.J.F. Louw yang berjudul “De Java Oorlog Uan” 1825 -1830
dilaporkan bahwa Residen Uan Den Poet mengorganisasi beberapa barisan yang baik
dari Tegal, Pemalang dan Brebes untuk mempertahankan diri dari pasukan
Diponegoro pada bulan September 1825 sampai akhir Januari 1826. Keterlibatan
Pemalang dalam membantu Belanda ini dapat dikaitkan dengan adanya keterangan Belanda
yang menyatakan Adipati Reksodiningrat hanya dicatat secara resmi sebagai
Bupati Pemalang sampai tahun 1825. Dan besar kemungkinan peristiwa pengerahan
orang Pemalang itu terjadi setelah Adipati Reksodiningrat bergabung dengan
pasukan Diponegoro yang berakibat Belanda menghentikan Bupati Reksodiningrat.
Pada tahun 1832
Bupati Pemalang yang Mbahurekso adalah Raden Tumenggung Sumo Negoro. Pada waktu
itu kemakmuran melimpah ruah akibat berhasilnya pertanian di daerah Pemalang.
Seperti diketahui Pemalang merupakan penghasil padi, kopi, tembakau dan kacang.
Dalam laporan yang terbit pada awal abad XX disebutkan bahwa Pemalang merupakan
afdeling dan Kabupaten dari karisidenan Pekalongan. Afdeling Pemalang dibagi
dua yaitu Pemalang dan Randudongkal. Dan Kabupaten Pemalang terbagi dalam 5
distrik. Jadi dengan demikian Pemalang merupakan nama kabupaten, distrik dan
Onder Distrik dari Karisidenan Pekalongan, Propinsi Jawa Tengah.
Pusat Kabupaten
Pemalang yang pertama terdapat di Desa Oneng. Walaupun tidak ada sisa
peninggalan dari Kabupaten ini namun masih ditemukan petunjuk lain. Petunjuk
itu berupa sebuah dukuh yang bernama Oneng yang masih bisa ditemukan sekarang
ini di Desa Bojongbata. Sedangkan Pusat Kabupaten Pemalang yang kedua
dipastikan berada di Ketandan. Sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat sampai
sekarang yaitu disekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan).
Pusat Kabupaten yang ketiga adalah kabupaten yang sekarang ini (Kabupaten Pemalang dekat Alun-alun Kota Pemalang). Kabupaten yang sekarang ini juga merupakan sisa dari bangunan yang didirikan oleh Kolonial Belanda. Yang selanjutnya mengalami beberapa kali rehab dan renovasi bangunan hingga kebentuk bangunan Jogio sebagai ciri khas bangunan di Jawa Tengah.
Dengan demikian
Kabupaten Pemalang telah mantap sebagai suatu kesatuan administratif pasca
pemerintahan Kolonial Belanda. Secara biokratif Pemerintahan Kabupaten Pemalang
juga terus dibenahi. Dari bentuk birokratif kolonial yang berbau feodalistik
menuju birokrasi yang lebih sesuai dengan perkembangan dimasa sekarang.
Sebagai suatu
penghomatan atas sejarah terbentuknya Kabupten Pemalang maka pemerintah daerah
telah bersepakat untuk memberi atribut berupa Hari Jadi Pemalang. Hal ini
selalu untuk rnemperingati sejarah lahirnya Kabupaten Pemalang juga untuk
memberikan nilai-nilai yang bernuansa patriotisme dan nilai-nilai heroisme
sebagai cermin dari rakyat Kabupaten Pemalang.
Penetapan hari jadi
ini dapat dihubungkan pula dengan tanggal pernyataan Pangeran Diponegoro
mengadakan perang terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu tanggal 20 Juli
1823.
Namun berdasarkan
diskusi para pakar yang dibentuk oleh Tim Kabupaten Pemalang Hari Jadi Pemalang
adalah tanggal 24 Januari 1575. Bertepatan dengan Hari Kamis Kliwon tanggal 1
Syawal 1496 Je 982 Hijriah. Dan ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten
Dati II Kabupaten Pemalang Nomor 9 Tahun 1996 tentang Hari Jadi Kabupaten
Pemalang.
Tahun 1575 diwujudkan
dengan bentuk Surya Sengkolo “Lunguding Sabdo Wangsiting Gusti” yang mempunyai
arti harfiah : kearifan, ucapan/sabdo, ajaran, pesan-pesan, Tuhan, dengan
mempunyai nilai 5751.
Sedangkan tahun 1496
je diwujudkan dengan Candra Sengkala “Tawakal Ambuko Wahananing Manunggal” yang
mempunyai arti harfiah berserah diri, membuka, sarana/wadah/alat untuk,
persatuan/menjadi satu dengan mempunyai nilai 6941.
Adapun Sesanti
Kabupaten Pemalang adalah “Pancasila Kaloka anduning Nagari” dengan arti
harfiah lima dasar, termashur/terkenal, pedoman/bimbingan, negara/daerah dengan
mempunyai nilai 5751.
B. Motto Pemalang IKHLAS
Untuk memberikan daya dorong
(motivasi) bagi masyarakat Kabupaten Pemalang dalam melaksanakan pembangunan
telah ditetapkan Motto Pembangunan dalam Perda Kabupaten Dati II Pemalang Nomor
11 Tahun 1990 dinyatakan “Motto Pembangunan Kabupaten Pemalang adalah IKHLAS”
yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Dati II Pemalang Nomor 6
tanggal 5 Maret 1991.
Motto Pemalang
IKHLAS mengandung arti
bahwa : Seluruh warga Kabupaten Pemalang dengan tulus hati, dengan hati bersih
tanpa pamrih dan selalu percaya kepada kebesaran dan kemurahan Allah Tuhan Yang
Maha Kuasa serta berserah diri kepada-Nya (Lillahi ta’ala) dalam melaksanakan
pembangunan.
Motto
Pemalang IKHLAS kecuali mengandung
pengertian sebagai tersebut di atas juga merupakan singkatan dari Indah, Komunikatif, Hijau, Lancar, Aman dan
Sehat. Masing-masing kata mengangung arti sebagai berikut :
1.
INDAH
Mengandung arti cita-cita kehidupan yang elok, bagus, berharga, bernilai keindahan (estetika/artistik) sedap dipandang mata dirasakan dan diresapi lahir dan batin.
Mengandung arti cita-cita kehidupan yang elok, bagus, berharga, bernilai keindahan (estetika/artistik) sedap dipandang mata dirasakan dan diresapi lahir dan batin.
2.
KOMUNIKATIF
Mengandung arti cita-cita kehidupan yang terbuka, mudah berkomunikasi, mudah diajak bicara, mudah dikenal, menyatu luluh terpadu dalam semua gerak pembangunan.
Mengandung arti cita-cita kehidupan yang terbuka, mudah berkomunikasi, mudah diajak bicara, mudah dikenal, menyatu luluh terpadu dalam semua gerak pembangunan.
3.
HIJAU
Mengandung arti cita-cita kehidupan yang gemah ripah loh jinawi penuh dengan hamparan tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan, hijau royo-royo, damai dan tenang.
Mengandung arti cita-cita kehidupan yang gemah ripah loh jinawi penuh dengan hamparan tanaman yang bermanfaat bagi kehidupan, hijau royo-royo, damai dan tenang.
4.
LANCAR
Mengandung arti cita-cita kehidupan yang ingin selalu melangkah maju dengan mantap, tanpa ragu-ragu, bebas dari hambatan dan tekanan dari siapa pun juga.
Mengandung arti cita-cita kehidupan yang ingin selalu melangkah maju dengan mantap, tanpa ragu-ragu, bebas dari hambatan dan tekanan dari siapa pun juga.
5.
AMAN
Mengandung arti cita-cita kehidupan yang tata tentrem lahir dan batin, tidak merasa takut atau khawatir, tidak ada ancaman atau rongrongan, serta menciptakan/mewujudkan daya tangkal yang kuat terhadap semua ancaman, tantangan hambatan dan gangguan manapun.
Mengandung arti cita-cita kehidupan yang tata tentrem lahir dan batin, tidak merasa takut atau khawatir, tidak ada ancaman atau rongrongan, serta menciptakan/mewujudkan daya tangkal yang kuat terhadap semua ancaman, tantangan hambatan dan gangguan manapun.
6.
SEHAT
Mengandung arti cita-cita kehidupan yang seimbang sehat jasmani, rohani dan sosial serta masyarakat yang bersemangat tinggi dan bergairah untuk membangun.
Sehat juga mengangung pengertian kesejahteraan lahir dan batin bagi warga masyarakat seluruhnya.
Mengandung arti cita-cita kehidupan yang seimbang sehat jasmani, rohani dan sosial serta masyarakat yang bersemangat tinggi dan bergairah untuk membangun.
Sehat juga mengangung pengertian kesejahteraan lahir dan batin bagi warga masyarakat seluruhnya.
IKHLAS sebagai Motto Pembangunan dalam kegiatan pembangunan
merupakan daya dorong (sumber motivasi) yang perlu diresapi dan dilaksanakan,
baik oleh orang perseorangan, kelompok maupun masyarakat secara keseluruhan.
Dengan demikian pula motto pembangunan ini perlu diresapi dan dilaksanakan oleh
aparatur pemerintah di Kabupaten Pemalang yang terpancar dalam perencanaan,
pelaksanaan dan pemeliharaan hasil-hasil pembangunan.
Pada hakikatnya pembangunan di
Kabupaten Pemalang adalah Pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat
seluruhnya, baik jasmani maupun rohani, materiil maupun spiritual, lahir maupun
batin serta dunia akhirat. Oleh karena itu sukses tidaknya pembangunan di
Kabupaten Pemalang sangat tergantung kepada keikutsertaan (partisipasi) seluruh
warga masyarakat dan dedikasi aparatur pemerintah di Kabupaten Pemalang serta
keridhoan Tuhan Yang Maha Kuasa.
C. Visi dan Misi
1.
Visi
Kabupaten Pemalang :
Kabupaten Pemalang yang Sehat, Cerdas,
Berdaya Saing dan Berakhlak Mulia
2.
Misi Kabupaten Pemalang :
1. Meningkatkan kesehatan masyarakat dan jaminan
sosial.
2. Meningkatkan pendidikan dan keterampilan
berbasis kompetensi.
3. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik melalui pelayanan prima, peningkatan investasi dan daya saing daerah.
4. Mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui perkuatan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian, perdagangan dan jasa serta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM)
5. Meningkatkan prasarana-sarana dasar dan ekonomi guna mengembangkan sinergi sentra-sentra produksi di perdesaan.
Mengembangkan kehidupan beragama yang aman, damai, harmonis, toleran dan saling menghormati.
3. Mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik melalui pelayanan prima, peningkatan investasi dan daya saing daerah.
4. Mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui perkuatan ekonomi kerakyatan berbasis pertanian, perdagangan dan jasa serta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM)
5. Meningkatkan prasarana-sarana dasar dan ekonomi guna mengembangkan sinergi sentra-sentra produksi di perdesaan.
Mengembangkan kehidupan beragama yang aman, damai, harmonis, toleran dan saling menghormati.
D. Geografis
1.
Luas
dan Batas Wilayah Admisnistrasi
Kabupaten Pemalang merupakan salah
satu kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah. Dengan Luas wilayah sebesar
111.530 Ha, sebagian besar wilayah merupakan tanah kering seluas 72.836 Ha
(65,30%) dan lainnya tanah persawahan seluas 38.694 Ha (34,7%). Adapun
Batas-batas wilayah Kabupaten Pemalang, sebagai berikut:
Sebelah Utara : Laut Jawa
Sebelah Timur : Kabupaten
Pekalongan
Sebelah Selatan : Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten
Banyumas
Sebelah Barat : Kabupaten
Tegal
2.
Letak
dan Kondisi Geografis
Kabupaten Pemalang
terletak pada 1090 17’
30’– 1090 40’ 30’
Bujur Timur (BT) dan 8052’ 30’ – 7o20’ 11’ Lintang Selatan
(LS)
3.
Topografi
Secara topografis, wilayah Kabupaten
Pemalang memiliki keunikan wilayah, yang dapat dikelompokkan menjadi empat (4)
kategori, yaitu sebagai berikut :
-
Daerah
dataran pantai : daerah ini
memiliki ketinggian rata-rata antara 1-5 meter diatas permukaan air laut (DPL);
meliputi 17 desa dan 1 kelurahan yang terletak di bagian utara yang
termasuk kawasan pantai.
-
Daerah
dataran rendah : daerah ini
memiliki ketinggian rata-rata antara 6-15 meter DPL yang meliputi 94 desa
dan 4 kelurahan di bagian selatan dari wilayah pantai.
-
Daerah
dataran tinggi : daerah ini
memiliki ketinggian rata-rata antara 16 – 212 meter DPL yang meliputi 35
desa, terletak di bagian tengah dan selatan.
-
Daerah
pegunungan: terbagi menjadi dua,
yaitu:
Daerah dengan ketinggian antara 213 –
924 meter diatas permukaan laut, meliputi 55 desa yang terletak dibagian
selatan.
Daerah berketinggian 925 meter diatas
permukaan laut yang terletak di bagian selatan. Daerah ini meliputi 10 desa dan
berbatasan langsung dengan Kabupaten Purbalingga.
4.
Geologi
Jenis tanah di Kabupaten Pemalang
dibagi menjadi tiga bagian antara lain sebagai berikut :
a. Tanah alluvial :
terutama terdapat di dataran rendah
b. Tanah regosol : terdiri dari batu-batuan
pasir dan intermedier didaerah bukit sampai gunung.
c. Tanah latosol : terdiri dari batu
bekuan pasir dan intermedier di daerah perbukitan sampai gunung.
5.
Hidrologi
Kondisi hidrologi Kabupaten Pemalang
terbagi atas :
-
Air Permukaan. Kabupaten
Pemalang dialiri sungai yaitu Sungai Waluh yang terletak kurang lebih 4 km dari
pusat kota dan sungai comal yang terletak kurang lebih 14 km dari pusat kota.
-
Mata air. Kabupaten
Pemalang memiliki potensi berupa mata air antara lain :
a. Mata air Gung Agung yang terletak di
Desa Kebongede Kecamatan Bantarbolang, dengan debet air kurang lebih 10
liter/detik, terletak pada ketinggian kurang lebih 70 meter diatas permukaan
air laut.
b. Mata air Telaga Gede yang terletak di Desa
Sikasur Kecamatan Belik.
c. Mata air Asem yang terletak di Desa
Bulakan, dengan debet air kurang lebih 160 meter/detik;
d. Mata air yang lain.
-
Air Tanah. Kabupaten
Pemalang terbagi menjadi dua wilayah air tanah sebagai berikut :
a. Daerah dataran rendah
Tanah terdiri dari endapan-endapan
lepas yang mempunyai sifat lulus air. Pada daerah ini kandungan air tanahnya
cukup besar hanya saja karena dekat pantai maka terjadi intrusi air laut.
b. Daerah Perbukitan tua dan Perbukitan muda
Daerah perbukitan tua : ditempati
batu-batuan dari formasi mioson dan floosen yang mempunyai sifat kelulusan air
yang sangat kecil, terutama serpih dan Nepal. Adapun yang berukuran kasar
seperti pasir mempunyai sifat kelulusan air, namun karena kelerengan yang cukup
terjal maka air tanahnya belum terbentuk. Daerah perbukitan muda: ditempati
batuan tafaan hasil gunung berapi, litologinya bersifat lulus air, tetapi
morphologinya berupa perbukitan dengan lereng yang cukup terjal dimungkinkan
air tanahnya baru mulai terbentuk. Pada satuan tafaan litologinya bersifat
lulus air, maka kemungkinan sudah mengandung air tanah.
6.
Hutan
Kabupaten Pemalang memiliki beberapa bagian
wilayah hutan, terdiri dari hutan lindung dengan luas 1.858,60 ha, hutan suaka
alam dan wisata luas 24,10 ha, hutan produksi tetap sebesar 26.757,60 ha,
hutan produksi terbatas sebesar 3.980,70 ha, hutan bakau dengan luas 1.672,50
ha, dan hutan rakyat seluas 22.874,78 ha. Luas hutan dibandingkan dengan
luas wilayah sebesar 49,57%. Gambaran ini menunjukkan keadaan yang cukup
baik terkait dengan kemampuan wilayah untuk menyimpan air tanah (catchment
area).
7.
Klimatologi
Temperatur Kabupaten
Pemalng tidak banyak mengalami perubahan pada musim kemarau maupun penghujan,
berkisar antara 300C dengan rata-rata curah hujan selama 1 tahun
sebesar 302 mm. Curah hujan tertinggi berada pada Bulan Januari yaitu 739 mm,
sedangkan curah hujan terendah berada di Bulan Juli, yaitu sebesar 47 mm.
E. Lambang
Kabupaten Pemalang

Lambang
Kabupaten Pemalang terdiri dari lambang berbentuk Kundi-pertala segi lima,
Bintang, pengapit lambang, nama daerah dan lampu pedalangan. Kelima bagian
tersebut disusun sedemikian rupa hingga nama daerah terletak diantara daun
lambang dengan lampu Blencong/pedalangan, kesemuanya ada di dalam perisai
wadah. Berdasarkan ketetapan DPRD Gotong Royong Kabupaten Pemalang tertanggal 1
Juni 1968 tentang penetapan Bentuk dan Arti Lambang Daerah Kabupaten Pemalang,
Lambang Daerah Kabupaten mempunyai arti tersendiri.
Bentuk Kundi-pertala
(Kendi dari tanah) berbentuk dasar segi lima, melambangkan dasar falsafah
negara, yaitu Pancasila. Bintang bersudut lima berwarna kuning emas
melambangkan kepercayaan rakyat Kabupaten Pemalang terhadap Tuhan Yang Maha
Esa.
-
Kubah berwarna biru melambangkan keimanan dan ketaqwaan rakyat Pemalang
kepada Tuhan YME.
-
Bambu Runcing melambangkan kepahlawanan dan kesatriaan rakyat
Pemalang.
-
Gunung (Gunung
Slamet) adalah suatu ciri yang khusus
bagi Kabupaten Pemalang karena Gunung Slamet merupakan satu-satunya gunung di
Pemalang.
-
Pegunungan (Bentuk
benteng atau tangga-tangga) melambangkan
keadaan alamiah daerah Pemalang. Di dalamnya terkandung hasil-hasil hutan
antara lain glagah arjuna, jati dan pohon pinus sebagai komoditi ekspor. Garis
horizontal berwarna putih melambangkan batas antara daerah datar dan
pegunungan.
-
Pohon beringin melambangkan suatu pengayoman dari pemerintah daerah
terhadap rakyatnya. Dua lidah api yang berpadu dengan bambu runcing yang
merupakan satu rangkaian tunggal melambangkan kepahlawanan dalam mempertahankan
Bumi Pertiwi dari imperialisme/kolonialisme.
-
Dua bilah kerisdengan bentuk yang sama besarnya dengan ujung ke atas
melambangkan kesatriaan patriot-patriot Pemalang dalam sejarah perjuangan.
Serta menggambarkan peninggalan, sejarah kebudayaan yang tinggi. Dua pusaka
tersebut (Kyai Sitapak dan Kyai Simongklang) yang sama besarnya memancar
melalui sebelah bawah membelok ke atas di belakang keluar dari bambu runcing.
Masing-masing keris dengan lidah api merah menyala ke atas dengan pesisir
kuning. Berarti rakyat Pemalang selalu punya semangat perjuangan yang
menyala-nyala.
-
Layar perahu melambangkan kemudi alam dengan sifat terpimpin dalam
arus gelombang yang mencoba menggulingkan struggle for life, namun layar tetap
tegak berkembang melawan hempasan gelombang dan derunya angin yang meniup
kencang. Perahu melambangkan sifat-sifat bahariawan. Merupakan kejayaan di
lautan yang dimiliki rakyat Pemalang.
-
Laut bergelombang
(tiga buah) melambangkan
bahwa sifat rakyat Pemalang selalu bergerak maju mengikuti program pemerintah
untuk mencapai masyarakat adil dan makmur. Arus laut suatu saat tenang dan
bergelombang di saat lain, mencerminkan watak rakyat Pemalang yang selalu
tenang dan bergerak dalam sejarah perjuangan.
-
Padi dan kapas melambangkan kemakmuran rakyat yang adil dan merata.
Perpaduan dari bintang, padi dan kapas melambangkan hari depan rakyat Pemalang
dalam menuju masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Tuhan YME, berdasarkan
Pancasila. Jumlah kapas 17 buah, api yang berlidah 8 dan padi berbulir 45
melambangkan hari Proklamasi 17 Agustus 1945.
-
Blencong (Lampu
Pedalangan) melambangkan
keindahan seni dan budaya terutama dengan motif wayang kulit ataupun dengan
motif Gajah Mada yang sekaligus merupakan penerangan dan penyebaran agama.
-
Pembuat Lambang
Pemalang
Lambang daerah Kabupaten Pemalang diciptakan Waluyo, Mantan Kasubbag Umum Setwan. Sebelumnya pada tahun 1967-1969 ketika dirinya mengikuti pendidikan keuangan P3KM Depkeu di Semarang, mendapat edaran tentang lomba logo Kabupaten Pemalang. Merasa tertarik, kemudian mengirimkan 2 gambar. Rupanya dia tidak sendiri, 65 peserta mulai mendaftar. Setelah diambil lima finalis, akhirnya ia terpilih sebagai pemenangnya.
Lambang daerah Kabupaten Pemalang diciptakan Waluyo, Mantan Kasubbag Umum Setwan. Sebelumnya pada tahun 1967-1969 ketika dirinya mengikuti pendidikan keuangan P3KM Depkeu di Semarang, mendapat edaran tentang lomba logo Kabupaten Pemalang. Merasa tertarik, kemudian mengirimkan 2 gambar. Rupanya dia tidak sendiri, 65 peserta mulai mendaftar. Setelah diambil lima finalis, akhirnya ia terpilih sebagai pemenangnya.
F. Kependudukan
Jumlah penduduk Kabupaten Pemalang,
berdasarkan hasil pencacahan Sensus Penduduk 2010 adalah 1.262.013 orang, yang
terdiri dari 625.642 laki-laki dan 636.371 perempuan. Dari data tersebut 3
kecamatan menempati urutan teratas jumlah penduduknya yaitu Kecamatan Pemalang
sebesar 173.217 orang, Kecamatan Taman sebesar 157.298 orang serta Kecamatan
Petarukan sebesar 143.816 orang.
Kecamatan Warungpring, Bodeh dan
Pulosari adalah 3 kecamatan urutan terbawah dengan jumlah penduduk paling
sedikit masing-masing berjumlah 37.839 orang, 53.040 orang dan 54.295 orang.
Sedangkan Kecamatan Belik dan Kecamatan Randudongkal merupakan kecamatan yang
paling banyak penduduknya untuk wilayah punggung (bagian selatan) dengan jumlah
penduduk masing-masing sebanyak 102.386 orang dan 95.598 orang.
Dengan luas wilayah Kabupaten Pemalang
sekitar 1.115,30 kilometer persegi yang didiami oleh 1.262.013 orang maka
rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Pemalang adalah sebanyak 1.132
orang per kilometer persegi. Kecamatan yang paling tinggi tingkat kepadatan
penduduknya adalah Kecamatan Comal yakni sebanyak 3.240 orang per kilometer
persegi, sedangkan yang paling rendah adalah Kecamatan Warungpring dengan
kepadatan sebanyak 492 orang per kilometer persegi.
G. Kondisi Ekonomi
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
PDRB Kabupaten Pemalang tahun 2010** (angka sementara)
atas dasar harga berlaku sebesar Rp. 8.066.313,66 juta sedangkan PDRB atas
dasar harga konstan sebesar Rp. 3.455.736,95 juta. Kontribusi sektoral terbesar
penyumbang PDRB pada tahun 2010 adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran
28,42%, sektor pertanian 25,42% dan industri pengolahan sebesar 22,59%.
H. Pertumbuhan Ekonomi
Kinerja ekonomi daerah Kabupaten
Pemalang pada tahun 2010 menunjukkan gambaran yang terus meningkat, hal ini
ditunjukkan dengan PDRB Kabupaten Pemalang atas dasar harga berlaku pada tahun
2010 sebesar Rp. 8.066.313,66 juta, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan
sebesar Rp. 3.455.736,95 juta. PDRB per kapita menurut harga berlaku yaitu
6,329 juta rupiah dan laju pertumbuhan ekonomi pada tahun 2010 sebesar 4,94
persen.
I.
Pendapatan
Per kapita
Pendaptan per kapita Kabupaten
Pemalang pada tahun 2010 atas dasar harga konstan sebesar Rp.2.738.000,00 per
orang** (angka sangat sementara). Angka tersebut meningkat secara nominal
daripada tahun 2009 sebesar Rp. 2.373.358,00, Tahun 2008 sebesar Rp.
2.255.100,00 per orang dan tahun 2007 yaitu sebesar Rp. 2.166.279,00.
J.
Laju
Inflasi
Tingkat inflasi di Kabupaten Pemalang
pada Tahun 2010 ** (angka sangat sementara) diperkirakan sebesar 7,38%. Kondisi
ini menurun apabila dibandingkan dengan laju inflasi pada Tahun 2009 yang
sebesar 8,71%. Kondisi tersebut mengindikasikan terjadi stabilisasi
perekonomian daerah, meskipun demikian secara makro kondisi tersebut perlu
dijaga agar nilai inflasi juga tidak terlalu rendah.
K. Potensi Unggulan Daerah
Beberapa potensi yang bisa dijadikan
komoditas unggulan dalam rangka mendukung pengembangan Kabupaten Pemalang
meliputi :
-
Industri tekstil,
tenun dan konveksi, kawasan agropolitan : industri kecil pakaian jadi atau
konveksi dan salah satunya adalah masuknya investor dari Jepang dengan
mendirikan Pabrik Garment untuk memenuhi kebutuhan ekspor tekstil Indonesia.
Hasil industri tesktil dan tenun meliputi sarung tenun, sarung palekat, kaos
kaki dan goyor. Sementara itu kerajinan gerabah, sapu glagah, kerajinan kulit
ular juga telah mampu menembus pasaran ekspor ke singapura dan Malaysia
-
Hasil pertanian
dan perkebunan : Sektor pertanian dengan lahan sawah seluas 38.617 hektar dan
lahan kering 23.813 hektar masih menjadi tulang punggung perekonomian di
Kabupaten ini, komoditas yang menonjol untuk tanaman pangan adalah Padi, Ketela
Pohon dan Jagung, Sayur-sayuran, Bawang Merah, Cabai Merah dan Ketimun.
Sedangkan produksi buah-buahan adalah Nanas Batu, Pisang dan Mangga. Salah satu
andalan Kabupaten Pemalang adalah “Teh” dengan produksi sebesar 927,53 ton,
dengan luas area perkebunan sebesar 15.713 hektar. Produksi perkebunan andalan
lainnya adalah Tebu, Kelapa Sayur, Glagah Arjuna, Cengkeh, Kopi, Tembakau,
Kakao, Lada, Nilam, dan Karet
-
obyek wisata : Kabupaten
Pemalang memiliki sejumlah obyek wisata yang memliki prospek yang sangat bagus
untuk dikembangkan. Beberapa jenis obyek wisata yang dimiliki terdiri dari
obyek pegunungan, pantai, air terjun, maupun obyek wisata buatan.
Pantai Widuri, Widuri
Waterpark, Pantai Blendung, Pantai Joko Tingkir, Gunung Gajah, Goa Gunung
Wangi, Curug Sibedil, Curung Barong, Bukit Mendelem, Telaga Rengganis, Telaga
Silating, Kolam Renang Banyumudal Moga, Mata Air Cepaka Wulung, Air Terjun
Sipendok, Air Terjun Bengkawah, Air Terjun Lawang dan juga Agropolitan
Waliksarimadu.
-
Perikanan tangkap
dan budidaya : Dengan areal tambak seuas 1.728 hektar komoditas yang
dikembangkan berupa Bandeng, Udang Windu dan Kepiting Soka. Sedangkan produk
perikanan laut yang mempunyai nilai jual tinggi diantaranya berupa Ikan Teri
Nasi, Udang, Rajungan dan Bawal Putih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar